Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan



night never lies . . 

di tubuhmu aku berlindung dari nikmat yang terkutuk
ke dalam pelukmu aku pasrah dan takluk
kenapa ada sorga bila yang nikmat adalah dosa

kata kata kusut dalam selimut

dan ke dalam pelukan dosa pun disucikan kusadap gairahmu hingga ngilu
kuliuk lukaku ke lekuk tubuhmu resapkan sakitmu ke dalam sukmaku
desahkan nyerimu menjadi nafasku

aaaaahh....

"duh, cintaku, beri aku nikmat yang tak ada di sorga.
hapus dosaku, dengan ciumanmu..."

perlahan airmatamu
                         j
                          a
                            t
                            u
                           h

aku teringat, seorang penyair pernah menulis: dalam sebutir airmata ada jurang menganga
sekuat apapun melupakan kita akan selalu mendengar gaung kesedihannya

"jangan terlalu melankolis, 
untuk sesuatu yang belum tentu membuat kita bahagia," katamu,
"sejak mula kita tahu: cinta hanyalah cara menunda rasa sakit."

"kita dipertemukan malam, bukan untuk berbagi kebahagiaan, tapi untuk saling menguatkan.

bukankah, cinta adalah alasan agar kita bisa bahagia?

kau tersenyum,
"kebahagiaan serupa abu dari birahi terbakar sepi."

"dan nanti, bila kau mati terbakar sepi, aku rela menjadi abu yang menyertaimu."

"bagiku, hatimu telah lebih dari cukup.
gemerlap dunia biarlah untuk mereka yang fana."

"tidakkah kau mencintaiku?" kataku.

"aku angin, mencintaimu bukannya tak ingin. hanya saja aku gampang bosan pada segala yang rutin."

"biarlah aku mencintaimu, seperti garam larut dalam laut atau sepasrah daun punah ke tanah."

"tak ada yang istimewa, tentu saja, dari cinta seperti itu. selain aku tak lagi sibuk
dengan ketakutan-ketakutanku sendiri."

"sementara itu, ketika hatimu lebih kosong dari langit sunyi, temukan saja aku dengan hasratmu..."

"...tapi jangan sampai kekasihMu tahu."

kuteguk bir seperti menikmati nasib getir

"berterimakasihlah pada malam yang memahami kita."






agus noor









"Kangen deh temu sama kalian! Ngumpul yuk!" ucap salah seorang teman di kolom komentar di sebuah media sosial Satu minggu lalu
Sebuah ajakan yang kemudian berlanjut kesebuah pertanyaan,"mau kapan?"

Satu minggu kemudian di tempat yang dijanjikan, dari 11 yang berencana datang, hanya 5 yang muncul 6 lainnya urung datang denganberbagai alasan
"Next time ya, gue lagi ngga sempat nih. Deket juga kan, bisa lain waktu"

Dekat, Lain waktu

Kita adalah makhluk yang gemar menyalahkan jarak yang terlalu jauh, tapi juga menyepelekan jarak yang sudah dekat
"Karena deket ngumpul kapan aja kan bisa"
Bilangnya kapan aja, tapi pada akhirnya ngga kejadian

Mungkin emang bener, pertemanan punya tanggal kadaluarsanya. Sempat seru, tapi ngga selamanya
Nggak semua pertemanan itu panjang umurnya

Sampai akhirnya, ucapan "ketemu yuk!" hanya menarik untuk diucapkan daridunia maya, tapi enggan untuk benar-benar menyempatkan
Padahal, segala sesuatu itu ngga akan sempat, kalo memang nggak disempatkan

You dont find the time
you make the time





Terima kasih sudah hadir di hidup saya, semoga "kita" masih ada di hari esok dan seterusnya. Sebab, "selamanya" tak pernah ada 

Terima kasih untuk tetap membiarkan saya menjadi apa yang saya inginkan dan tak pernah memaksa untuk menjadi apa yang kamu sukai 


Terima kasih sudah mencintai saya beserta busuk-busuknya, buruk-buruknya, bodoh-bodohnya


Terima kasih untuk setiap langkah kecil dan besar, yang kamu lakukan untuk membuat kebahagiaan kita tak lagi terasa semu 


Terima kasih untuk selalu membuat saya merasa menjadi laki-laki sempurna walau kenyataanya tidak 

Terima kasih untuk setiap rindu yang selalu dibayar dengan temu, walau rinduku tak pernah tuntas semudah itu 


Terima kasih untuk hari-hari yang sudah berlalu, hari yang tak pernah saya lewati tanpa tertawa dan berdoa; semoga jodoh kamu adalah saya 

Kalau saya bisa meminta sama Tuhan, saya ingin kamu bahagianya sama saya





Adellina Fitriyani









Ada hal yang mati-matian kau rindu dan tak akan pernah kembali padamu,
sekeras apa pun kau memeras lidahmu untuk berdoa
Tuhan tak akan mampu memberikannya kembali padamu.


Ada hal yang mati-matian kau cari dalam dirimu dan tak jua kau temukan,
selantang apa pun kau meneriakkan pinta pada semesta
Langit tak akan menjatuhkan apa-apa ke pangkuanmu.

ada





Putar Balik Waktu









Jangan takut lapar, anakku. Lapar membuatmu merasakan kesulitan banyak orang, kenyang hanya akan membuatmu memikirkan dirimu sendiri

Jangan takut rasa sakit, anakku. Takutlah mati rasa

Jangan takut tidak punya teman, anakku. Teman menunjukkan apa yang mau kau lihat, musuh menunjukkan apa yang harus kau lihat

Jangan takut hujan, anakku. Hujan membantumu mengingat rumah tempatmu memulai perjalanan sejauh apa pun kau berada sekarang

Jangan takut terlambat, anakku. Takutlah menyesal

Jangan takut gelap, anakku. Gelap membantumu merasakan apa yang selama ini tidak bisa dan tidak mau kau lihat dengan mata

Jangan takut pagi, anakku. Setiap kau merasa berhasil mengalahkan malam, pagi akan menertawakanmu dari belakang lalu membawamu tidur

Jangan takut tuhan, anakku. Ia adalah pengasih tanpa batas

Jangan takut sekolah, anakku. Sampai umurmu nanti belasan, itu adalah satu-satunya kesempatanmu mendapatkan uang jajan. Lagi pula kami lebih peduli dengan isi kepalamu dibanding angka-angka di buku raportmu itu

Jangan takut preman, anakku. Mereka makan dari rasa takutmu

Jangan takut kehilangan, anakku. Takutlah kau tidak punya apa-apa lagi untuk dihilangkan

Jangan takut kalah, anakku. Takutlah menang dengan berbuat salah

Jangan takut tersesat, anakku. Kau akan melihat lebih banyak hal selama kau mencari jalan pulang

Jangan takut bicara, anakku. Diam tidak akan membawamu ke manapun
Jangan takut polisi, anakku. Gagasan tidak bisa ditangkap atau dipukuli

Jangan takut istri, anakku. Biarlah itu jadi bagian ayahmu



Bhagavad Sambadha









Aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta
Namun Cinta Memilihku untuk jatuh tampa upaya
Relung yang sepi itu pernah terisi Janji perkara - perkara yang diingkari
Nemun semesta tak tinggal diam, Kau di hadirkan dalam sebentuk pulang untuk tubuhku yang lelah dalam persinggahan 


Kemudia Bencana - Bencana Duka Pecah!!



Menjelma Cerita

Foto Muhammad Abduh.

Merline Jane



Saat yang tepat

Jika pada akhirnya kau dimiliki orang lain
Jika pada akhirnya cerita kita selesai

Jika pada akhirnya sekeras apapun kita mencoba tapi tetap tak bisa,
Dan jika pada akhirnya mulutku tidak sempat mengatakan semua 
ketahuilah. . .

Aku selalu sayang kamu!
Aku selalu menyayangimu!
Selalu!

Dan jika semua sudah terlambat, 
kuharap akan ada satu waktu dimana kita
diizinkan untuk bertemu sekali lagi.

Dan ketika saat itu tiba
Aku berharap . .  . waktunya tepat